Kirim Artikel (Disini)

Silahkan Kirim artikel tulisan anda melalui bagian komentar yang tersedia di halaman ini. Selamat mencoba.

http://www.mediamuslim.info

13 Komentar

  1. dhitos said,

    November 17, 2006 pada 3:43 pm

    Memberi adalah Melepas, maka Lepaslah!

    Sungguh,
    Engkau memberi lebih baik daripada meminta, maka
    Engkau lakukanlah setiap waktu
    Engkau mengetahui manfaat memberi, tetapi
    Engkau jangan terikat dengan hasilnya.
    Engkau melakukan pemberian maka nikmatilah! seperti
    Engkau memasukan makanan kedalam mulut.
    Bukankah,
    Engkau akan merasakan lebih nikmat, bila
    Engkau menyuap makanan kedalam mulut, tanpa
    Engkau harus memikirkan rasa kenyang yang akan
    Engkau rasakan.
    Sekarang,
    Engkau mengerti arti memberi
    Memberi adalah melepas maka lepaslah, maka
    Engkau ikhlas.

    dhitos, Agustus 2006

  2. gustikecil said,

    Desember 8, 2006 pada 9:12 am

    Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput
    Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk
    Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran
    Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang
    Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia
    Maka mengapa takut hilang melalui kematian?

    Kelak aku akan mati
    Membawa sayap dan bulu seperti malaikat
    Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat
    Apa yang tidak dapat kau bayangkan
    Aku akan menjadi itu

    Jalaludin Rumi

  3. qalbusalim said,

    Januari 7, 2007 pada 10:17 am

    *INORMASI PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES LAYANAN PENUH 24 JAM*
    coba buka http://qalbusalim.wordpress.com/2007/01/07/al-jenazah-airlines/

  4. Januari 19, 2007 pada 12:01 am

    Tidak terasa ternyata kita kembali menemui salah satu momentum besar dalam tradisi relijius Islam, bernilai besar tidak saja secara ritual yang melibatkan banyak pelaku dalam saat yang sama, tetapi juga besar secara sosio-historis, dan yang lebih penting, secara ruhiyah.

    Tradisi yang kemudian kita kenal sebagai Hari Raya Qurban (Idul Adha), secara kolektif mampu mendorong setiap muslim untuk berlomba beramal dengan mengkurbankan hewan hasil dari shodaqoh, baik berupa sapi maupun kambing. Tidak ketinggalan kaum papa pun berlomba mendapatkan karunia – rezki lebih, dari setiap kerat daging yang menjadi hak mereka.

    Fenomena diatas menunjukkan, tradisi Qurban tidak hanya secara elitis dimiliki oleh kaum aghnia (kaya), tetapi sangat terbuka ruang, yang memang diperuntukkan bagi kaum papa untuk terlibat. Nyatalah, secara esensial target utama dari Qurban adalah lapisan sosial ekonomi lemah.

    Maka terdapat beberapa makna atau nilai yang dapat diambil dari fenomena ini, yaitu pertama, ibadah Qurban merupakan manifestasi ruhiyah untuk senantiasa menyerahkan segala kepemilikan bendawi khususnya, hanya kepada Allah yang diwujudkan dengan mengkurbankan hewan. Setiap hamba dituntut untuk mengambil posisi vis a vis dengan ikatan bendawi, meski hal itu merupakan bagian dari nikmat yang lumrah dimanfaatkan. Kedua, qurban merupakan sebuah simulasi lapangan dalam mengejawantahkan keseimbangan kosmologis, yang tiada ketimpangan, stratifikasi dan ketidakadilan struktural sehingga memarjinalkan kalangan the have not (tak berpunya).

    Pesan ruhiyah dan sosiologis terintegrasi dalam ibadah Qurban, bahwa sesuatu yang ritualistik pada saat yang sama sangat empiris, personal sekaligus sosial, abstrak juga kontekstual. Permasalahannya sekarang, sekian lama momentum Qurban kita jalani, apakah kedua esensi tersebut teraktualisasi ?

    Penalaran Essensi Qurban.
    Qurban secara bahasa berasal dari kata qaraba yang berarti dekat atau mendekat. Setiap pelaku qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai The Real Existence (Wajibul Wujud) dengan menyembelih seekor hewan sebagai simbol kepasrahan dan pelepasan dari ikatan bendawi. Mengapa kita harus mendekat kepada Allah dan menanggalkan segala keterikatan bendawi yang secara kasat mata sangat indah itu ?

    Berawal dari nilai dasar Islam, yaitu Tauhid (Laa Ilaah Illallaah), bahwa peta kosmologis secara materi dan immateri memiliki sentrum tunggal. Sentrum ini berupa aksis (poros) yang mana semua materi dan immateri berasal dari poros tersebut, dan terikat secara mutlak padanya. Sentrum ini merupakan awal dan akhir dari segala kejadian. Maka kesejatian, kemutlakan, keajegan, kedaulatan ada pada poros ini, karena Ia tidak terikat oleh dimensi dan konvensi-konvensi yang kita kenal (ruang dan waktu) sehingga sifat universalitas, kemenyeluruhan dan keutuhan adalah watak sejati-Nya. Diluar itu, merupakan lawan dari semua sifat yang dimiliki kutub tersebut, yaitu kefanaan, keabsurd-an,relativitas dan ketidakberdayaan. Karena kelemahan-kelemahan ini, ia menjadi sangat bergantung kepada yang Mutlak, Ajeg dan Sejati sebagai satu-satunya mata air kekuatan dan kemulyaannya.

    Konsekuensinya, tumbuhlah rasa taslim (kepasrahan total), al-hubb (mencinta), dan tergantung total hanya kepada Dzat yang Mutlak tersebut, karena ketika wujud yang faqir itu sedikit saja melepaskan keterikatannya pada yang Mutlak ia akan menderita disharmonisasi dan disintegrasi secara massif.

    Dalam konteks Ibrahim a.s, beliau pernah mencoba untuk menanggalkan kebergantungannya kepada yang Maha Mutlak, dengan memilih keterikatan bendawi dengan menetapkan matahari, dan bulan sebagai pusat orientasinya. Dan akhirnya beliau pun menyadari bahwa satu-satunya pusat orientasi (kiblat) dan penyerahan diri hanyalah yang Maha Mutlak tersebut.
    “Aku orientasikan segenap aspek jasadi dan ruhaniku, hanya pada yang menjadikan Langit dan Bumi, dan Aku termasuk golongan yang menyerahkan diri “.

    Ketika keyakinan telah terbentuk, akan maujud sebuah pandangan dunia yang menjadi karakter, sikap dan perilaku Ibrahim, dengan kata lain ia tidak hanya berhenti pada peta kognitif, tetapi juga sekaligus membuka jalan bagi dilakukannya aksi dalam mengaktualkan idealitas tersebut. Di titik ini, Ibrahim berhasil membentuk Pandangan Dunia sebagai madhab pemikiran (ideologi) dan metode aksi (falsafah pergerakan).

    Fase pertama yang dilalui adalah pemurnian dan pembentukan idelogi sebagai basis keyakinan yang menjadi alat ukur dan titik awal pergerakan-pergerakan selanjutnya. Basis ideologis ini membutuhkan pembajaan yang tiada henti, agar senantiasa terpelihara Kiblat (pusat orientasi) sebersih-bersihnya.

    Apa yang kemudian dialami oleh Ibrahim, mulai dari dialektikanya dengan matahari dan bulan, diusirnya Ibrahim oleh Azar ayahandanya, perobohan patung-patung, pembakaran, hijrah ke Mekkah dan penyembelihan Isma’il merupakan sebuah proses panjang dalam peningkatan kualitas ideologi yang bersemayam di akal dan hatinya. Khusus berkenaan dengan peristiwa terakhir (penyembelihan Isma’il), merupakan peristiwa yang sangat dramatis dan fenomenal sehingga diabadikan sebagai momentum ibadah Qurban.

    Pembajaan dan pembersihan ideologi dimaksudkan agar tidak ada tandingan-tandingan (andaad) dalam kepasrahan, ketaatan dan kecintaan Ibrahim yang dapat mempengaruhi kelurusan aksi-aksi yang dilakukan dalam pembumian ideologi Tauhid tersebut. Penyembelihan Ismail pun sebagai salah satu wujud training Ilahiyah dalam mensucikan Ibrahim dari semua anasir-anasir yang dapat menandingi Allah sebagai kiblatnya.

    Ismail dapat menjadi tandingan dalam ketundukan, kecintaan dan ketaatan karenanya ia perlu dikurbankan,agar ideologi dan metode aksi Ibrahim dapat selamat sehingga layak untuk menjadi prototipe pelanjut-pelanjutnya dikemudian hari.

    Koreksi intern sebagai awal bagi hadirnya pergerakan risalah, menjadi mutlak dan tidak bisa diabaikan. Setiap hal, baik itu sesuatu maupun seseorang yang berpotensial menjadi ‘ismail’ (baca : penghalang) antara kita dan Allah, wajib didekonstruksi. Apa pun, apakah itu benda, personal, bahkan sistem/struktur pun harus kita ‘qurbankan’.

    Sebagai contoh, seorang pejabat harus mendekontruksi kekuasaannya, ketika kekuasaannya menjadi penyebab dirinya berlaku dzalim, seorang pengusaha mengkurbankan usahanya, seorang suami mengkurbankan istri, ulama mengkurbankan madhabnya dan argumennya, ibu mengkurbankan anaknya, begitu seterusnya.

    Pembentukan pandangan dunia (vision de monde) ini berimplikasi pada pembentukan keyakinan moral dan ideal tentang tata sosial yang harus terbentuk. Pranata sosial dipandang sebagai bagian dari wujud pengorientasian secara kolektif terhadap Kiblat yang mutlak, yaitu Allah. Hadirnya pranata sosial yang berorientasi secara lurus, memudahkan dan mengkatalis pengorientasian diri kepada Wajibul Wujud, sehingga ia pun turut menjadi instrumen vital. Kehendak luhur ini dapat dilihat dari dibagi-bagikannya daging qurban kepada mereka yang berhak, sebagai artikulasi abstraksi pandangan dunia Tauhid kehamparan realitas sosial secara konkret.

    Bahkan lebih jauh lagi, ibadah qurban pun bermakna sebagai protes sosial terhadap sistem, struktur dan hirarki sosial yang timpang sehingga menjadi ‘ismail’ secara kolektif. Jadi ibadah Qurban tidak saja akan berimplikasi pada wilayah personal, tapi menyebar dan melebarkan sayapnya pada sistem dan struktur yang mapan. Laksana sebuah virus yang akan menggerogoti fondasi sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang korup, ia baru akan berhenti ketika Allah benar-benar menjadi pusat orientasi sosial, politik, ekonomi dan budaya.

    Dari sudut pandang ini, sangat wajar jika bagi pendukung kemapanan, momentum ibadah Qurban laksana terowongan bawah tanah, tempat bersarangnya para pemberontak yang akan menggangsir pusat kekuasaan dari bawah. Ibadah Qurban dipandang membahayakan karena dapat menumbuhkan semangat perlawanan, solidaritas, dan sentimen anti status quo. Terbukti, sekitar abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda melarang praktek Qurban dan ibadah Haji di Nusantara dengan regulasi yang tersurat dalam doktrin “Islam Politieke”.

    Dan sekarang ini, ketika rata-rata dari kita ramai-ramai merayakan Qurban dengan sekerat daging – praktik yang seringkali sangat mekanistik, semoga saja kita tidak lupa bahwa kita pun dituntut untuk mengkurbankan ego, istri, suami, kekuasaan politk, kekayaan, status sosial, organisasi, fanatisme golongan/madhab, bahkan bila perlu Presiden pun dapat kita qurbankan.
    Prinsip pembebasan (pribadi dan kolektif), keadilan, dan persamaan derajat, merupakan deretan nilai-nilai etis-moral yang mendasari hadirnya Qurban ke hadapan kita.

    Dalam perspektif Qurban, teranglah bahwa Islam, hadir tidak dengan semangat mengabsahkan realitas, tetapi untuk merubahnya. Qurban hari ini akan menentukan realitas dan peta masyarakat selanjutnya dalam ranah spiritual, ideologis, politik, sosial, budaya dan ekonomi. Produk dari berqurban-nya Ibrahim adalah negeri Mekkah, organisasi aplikatif yang dilegitimasi sebagai Baladal Amin. Maka apakah out put dari qurban kita ?. Berkurban yu …..!.

    Wallahu A’lam

    Bukit Dago Selatan 4B, 16 Januari 2007 Ahmad Sofyan

  5. jalasutra said,

    Januari 23, 2007 pada 4:13 pm

    TA’ARUF
    Demikian Islam memerintahkan kita akan suatu perkenalan, yang mana dengannya kita dapat menjadi lebih dekat dan memahami setiap kelebihan dan kekurangan yang ada. Ta’aruf berarti memperkenalkan, maksudnya agar lebih memperat tali Ukhuwah Islamiyyah, persatuan ummat dan menjaga agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Segala puja dan puji serta ibadah hanya untuk Allah SWT semata, Rabb semesta alam. Tiada Ilah yang berhaq untuk disembah kecuali Dia, tiada sekutu bagi-Nya baik secara zhohir maupun bathin. Kita mohon perlindungan kepada-Nya dari amal-amal yang tidak diterima, dari do’a-do’a yang tidak mustajab dan dari perkara-perkara yang diada-adakan (bid’ah). Dan sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, shalawat serta salam baginya, keluarganya, sahabatnya serta umatnya yang tetap tsiqoh dan istiqomah dalam menetapi Islam yang hanif dan diatas koridor tauhid yang lurus (Millah Ibrahim) dari generasi awal (salaf), sekarang (khalaf) maupun yang akan datang (muta’akhirin).

    Tiada maksud menggurui ataupun merasa lebih dari antum sekalian, melainkan karena kita diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran walaupun pahit rasanya dan fatal akibatnya. Demi masa (waktu yang terus berjalan). Sesungguhnya manusia itu benar-benar ada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholih dan saling tausiah (nasihat-menasihati) dengan al Haq (kebenaran) dan dengan penuh kesabaran. Serulah manusia kejalan Rabb-mu yang lurus, yang menciptakan kamu dengan perantaraan kalam. Sesungguhnya tiadalah Aku ciptakan dari bangsa jin dan manusia melainkan untuk selalu mengabdi (beribadah) akan Aku. Dan jangalah engkau mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim).

    Kejernihan hati kita dalam memahami akan kebenaran Islam adalah suatu keharusan bukan atas dasar kehendak ego diri dan hawa nafsu yang berujung pada penyimpangan, sehingga kita memahaminya bukan atas dasar keimanan dan ketaqwaan. Pelajari dan galilah Islam dari sumbernya yang shohih dan jelas (khasan) dan dapat dipercaya sebagaimana pemahaman salafu ummah (sahabat) dan salafu sholih (thabi’in). Sesungguhnya ilmu itu sebelum kita berbicara dan beramal, demikian Imam Bukhari berkata.

    Ya Allah, ya Rabb kami, satukan dan kokohkan serta teguhkanlah hati kami dalam tauhid dan keimanan kepada-Mu, jadikan kami mujahid yang muwahid dan muwahid yang mujahid. Lapangkanlah jalan kami menuju keridha’an-Mu serta bimbinglah kami dengan bimbingan-Mu, janganlah kau lalaikan hati kami dari dzikrullah kepada-Mu.

    Ya Allah ya Rahman, tolonglah saudara kami para mujahiddin di medan ribath dan jihad dengan pertolongan-Mu, kuatkanlah kesabaran dengan hanya mengharap ridha-Mu, satukanlah hati mereka dengan ikatan aqidah yang haq, jadikanlah tetesan keringat, darah dan air matanya sebagai sebagai perisai dari azab yang pedih. Dan jadikanlah kematiannya sebagai Syuhada di jalan-Mu.

    Ya Allah ya Jabbar, ringankanlah kaki kami dalam melangkah bergabung bersama para mujahidin yang berjihad dijalan-Mu, lempangkanlah jalannya kesana dan berilah kami azzam, izzah dan kesabaran dalam melazhiminya.

    Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Rabb-Mu yang telah menciptakan kamu dengan kesempurnaan penciptaan. Masuklah kalian kedalam barisan orang-orang yang Allah SWT ridha’i yaitu jalannya para Nabi, Shidiqqin, Sholihin dan Syuhada.

    Wahai diri yang lemah lagi tidak berdaya upaya, kecuali atas apa yang Allah SWT kehendaki sehingga diri ini menjadi kuat dan berdaya guna. Ingatlah akan persaksian dan perjanjian kalian dahulu waktu masih didalam sulbi ibumu, ‘Apakah Aku ini Rabb-mu ?’, dan kalian membenarkan-Nya bahwa Allah SWT itu adalah Rabb kalian. Hal ini supaya kalian dikemudian hari tidak mengingkari-Nya ( kafir dan atau menyekutukan-Nya ). Mengapa kalian telah melupakan janji dan persaksian kalian akan Allah SWT sebagai Rabb kalian. Dan ketahuilah (pahamilah) bahwa tidak ada ilah yang berhaq untuk disembah (diibadahi) kecuali Allah, bukan harta yang berlimpah, bukan pula jabatan yang tinggi atau darah keturunan yang kalian bangga-banggakan, tetapi hanya satu yang mestinya kita pertanyakan sekarang sudahkah kita mentauhidkan Allah SWT ?.

    Tauhid kepada Allah SWT dan ingkar kepada thogut inilah yang dibawa dan dida’wahkan oleh para Nabi dan Rasul utusan-Nya kepada umatnya. Inilah pokok dari Dien Islam ini, sebelum kita belajar masalah fikih dan furu’, terlebih dahulu kita harus belajar tentang Tauhid. Karena dengannya kita akan mengetahui hak dan kewajiban, serta wala’ (loyalitas) dan barra’(berlepas diri).

    Demikian ta’aruf ini disampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Sesungguhnya kebenaran itu hanyalah yang datang dari Allah SWT kalaupun ada kekeliruan hanyalah karena kedhaifan dari ana pribadi sebagai manusia. Semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah SWT yang bertauhid, dipersatukan oleh aqidah yang haq dan menghadap Allah SWT dengan haq pula (khusnul khatimah).

    Alfaqir hamba Allah SWT,
    Jalasutra (Abu Hazziy Mufada Al Kuningiy)

  6. fay said,

    Februari 6, 2007 pada 3:09 pm

    apakah salah menyukai seseorang, memikirkannya, dan selalu ingin dekat? apakah itu dosa? bolehkah kita ta’aruf dengan non muslim?

  7. PejuangIslam said,

    Februari 7, 2007 pada 6:00 am

    untuk Fay
    salah dong jika orang tersebut bukan Mahrom kita
    dan kok nyari non muslim, emang yang muslimah sudah habis nih cerita….:D

  8. msalahuddin said,

    Februari 14, 2007 pada 11:35 am

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Banjir yang melanda kota Jakarta telah banyak menimbulkan kerusakan infrastruktur dan kehilangan ekonomi. Hujan selama 5 hari telah menghanyutkan sekitar 70 % dari wilayah Jakarta. Siapa yang menyangka ibukota yang tersusun megah ini bisa mengalami kerugian besar akibat musibah akibat tetesan-tetesan air hujan yang turun dari langit? Dukungan baik materil dan doa merupakan amal yang hanya kepada Allah-lah kita semua mengharapkan balasannya. Kepada semua teman yang memiliki rezki, ini adalah momen yang tepat untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama manusia.

    Kita sudah terbiasa mendengar bencana di negeri ini. Diantaranya, Aceh (Tsunami), Nias (Gempa), Bantul (Gempa), Sidoarjo (Lumpur Panas), Tamiang (Banjir), bahkan di luar negeri, kurang lebih 189.000 jamaah haji Indonesia terlantar ketika hendak melaksanakan Wukuf di Arafah. Sekarang, Jakartapun mengalami bencana yang tidak kalah hebatnya. Adakah kita mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini?

    Belum lagi kasus-kasus kesehatan seperti flu burung (No. 1 terparah di dunia) dan demam berdarah, Di tambah lagi dengan permasalahan pemerintah seperti korupsi, wakil rakyat yang tidak amanah, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, dsb. Kemudian persoalan sosial seperti perzinahan, perselingkuhan, judi, narkoba, pembunuhan, pencurian dsb, yang semuanya pasti mengandung suatu pesan yang sangat fundamental. Sedemikian banyaknya persoalan kita, sehingga setiap individu wajib melakukan muhasabah (introspeksi) yang serius pada dirinya masing-masing.

    Sebagai makhluk yang ber-Tuhan kepada Yang Maha Esa, semua ini tentu terjadi atas kehendak-Nya. Ada sebuah “peringatan” yang harus difikirkan agar menjadi pelajaran bagi setiap individu. Bila kita tidak mengacuhkan hal pelajaran ini, keadaan akan tetap, bahkan semakin parah di masa yang akan datang.

    Saya ingin mencoba memberikan penjelasan dari perspektif agama Islam. Allah Swt telah berfirman di dalam Al Quran surat Ar Ra’ad ayat 11 sebagai berikut :

    “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
    (QS. Ar Ra’ad 11)

    Sebagai negara yang jumlah penganut agama Islamnya terbesar di dunia, persoalan ini sangat erat kaitannya dengan masalah akidah yang merupakan fondasi dari Dienul Islam. Sebuah tulisan di Republika pada hari Jum’at, 2 Februari 2007, oleh Dr. Hamid, Director of Islamic Studies and Civilization, menjelaskan tentang Peradaban Islam dan Barat, memberi inspirasi bagi saya untuk membuat tulisan ini.

    Banyak diantara kita menyangka bahwa Barat merupakan sebuah simbol kebebasan (freedom). Sebenarnya, Barat merupakan sebuah peradaban yang memiliki pandangan mendunia (world view) sebagaimana Islam. Seorang ahli yang meneliti tentang masalah peradaban dunia, Prof Fukuyama, mengatakan bahwa peradaban Islam bertentangan dengan peradaban Barat. Bila sebuah peradaban terlalu banyak mengkonsumsi prinsip-prinsip peradaban lain, maka peradaban tersebut akan mati/hilang. Sebagai contoh, jika peradaban Islam terlalu banyak mengkonsumsi nilai-nilai, prinsip, konsep hidup Barat, maka secara perlahan-lahan, peradaban Islam akan hilang. Atau dapat dikatakan peradaban Islam terhegemonikan oleh peradaban Barat.

    Pandangan dunia (world view) dari Islam adalah menjadi Rahmatan lil A’lamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Sedangkan individual view-nya adalah menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah. Mari kita mengambil sebuah contoh agar dapat memahami hal ini, yaitu konsep waktu.

    Menurut Pandangan Barat
    Time is money. Waktu adalah uang. Konsep ini membuat orang memanage waktu dalam hidupnya untuk mencari uang/materi. Semua fikiran dan tenaga dicurahkan untuk mendapatkan materi. Menyebabkan timbulnya ideologi kapitalisme. Benda apapun, harus dapat ditransfer menjadi uang. Bahkan wanita sekalipun menjadi objek untuk memperoleh materi.

    Pemikiran Barat diatas mempengaruhi setiap tindakan dalam kehidupan. Orang tidak lagi memperdulikan asalnya, apakah halal atau haram, yang penting mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya. Maka bersemilah budaya korupsi, sogok-menyogok dsb. Pandangan orangpun berubah. Yang menjadi tauladan (idola) adalah mereka yang mempunyai uang paling banyak. Bill Gates merupakan simbol keberhasilan pemikiran ini. Para artis, bintang film terkenal, pemain sepakbola terkenal, penyanyi terkenal bahkan dai terkenal dan kaya menjadi idola.

    Konsep ini menjerumuskan orang kepada pemikiran bahwa rezeki yang diperolehnya merupakan hasil dari jerih payahnya semata, sehingga menumbuhkan sifat individualisme dan bakhil (cinta yang berlebihan terhadap harta). Dalam pemanfaat hartanya, dia akan cenderung berfoya-foya dan bermegah-megahan, untuk menunjukkan status-nya di masyarakat.

    Mereka yang menganut konsep ini, baik disadari atau tidak, telah menjadi budak uang/harta, dan menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya.

    Menurut Pandangan Islam
    Konsep waktu dalam Islam telah dijelaskan didalam surat Al Ashr ayat 1 – 3.
    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Nasehat-menasehati dalam menaati kebenaran. Nasehat menasehati dalam kesabaran.”

    Konsep ini menuntut umat Islam untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh 4 hal dalam mengisi waktu di dalam hidupnya :
    1. Senantiasa beriman kepada Allah dan terus meningkatkan keimanannya.
    2. Melakukan amal-amal sholeh, baik yang berhubungan vertikal kepada Allah, maupun hubungan muamalah kepada sesama manusia.
    3. Saling nasehat-menasehati dalam hal kebenaran
    4. Saling nasehat-menasehati dalam hal kesabaran.

    Konsep hidup ini seiring dengan maksud Allah menciptakan manusia :
    “Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah).”
    (QS. Adz Dzariat :56)

    Tujuan yang hendak dicapai dari ciptaan-Nya yang bernama “manusia”, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Sebagai contoh dalam dalam hal puasa, Allah berfirman :

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa.”

    Pemikiran ini mengarahkan orang memanfaatkan waktunya selama hidup untuk melakukan amal-amal kebaikan, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.. Sebagai contoh, wanita diperintah untuk menutup auratnya semata agar kehormatannya terjaga dan keelokan tubuhnya tidak dapat dinilai dengan uang/materi. Minuman keras dilarang karena dapat menghilangkan kesadaran dan merusak akal, sedangkankan Islam sangat menghargai kejernihan akal dalam berfikir.

    Orang-orang yang menjadi tauladan hidupnya adalah pembawa risalah Islam, yaitu Nabi Muhammad Saw, para Siddiqqin, Shuhada, dan orang-orang sholeh.

    Tuhan-Nya adalah Allah dengan kesaksiannya :
    “Laa illa ha illallah, Muhammadar Rasulullah” (Tidak ada Tuhan selaian Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.)

    Kembali ke masalah bencana yang menimpa suatu negeri, di dalam Al Quran surat Al A’raf ayat 96 :
    “Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), oleh sebab itu Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu.”

    Bila kita memahami ayat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan fundamental yang kita hadapi adalah masalah keimanan. Melihat kondisi masyarakat kita saat ini, yang semakin materialis dan meninggalkan ajaran agamanya, maka disadari atau tidak, kita terjebak kepada perbuatan “syirik” atau menyekutukan Allah. Di satu sisi kita bersaksi bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah”, namun, dalam keseharian, kita menuhankan Hawa Nafsu kita, mengabaikan perintah dan melanggar larangan-larangan-Nya.

    Allah Swt telah memperingatkan hal ini di dalam surat Al Jaatsiyah ayat 23 :
    “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.”

    Kita memang tidak menjadikan Latta, Uzza dan Manna sebagai sembahan, sebagaimana masyarakat jahiliyah dahulu, akan tetapi tanpa kita sadari, pola fikir kita telah menjerumuskan kita pada tindakan-tindakan syirik. Seorang yang sangat bijak dan di-abadikan namanya di dalam Al Quran bernama Lukman al Hakim, telah memperingatkan anaknya agar waspada terhadap hal ini :
    “….Hai anakku, jangan kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
    (QS. Lukman ayat 13)

    Maka, jika kita tidak merubah pola fikir, tindakan, dan memperbaiki iman kita, azab Allah tidak akan berhenti menimpa negeri ini. Sesungguhnya bukanlah banjir, kemiskinan, kelaparan, gempa bumi atau bencana lain yang perlu ditakuti, namun yang harus ditakuti adalah turunnya Azab Allah akibat kelalaian kita dalam memahami petunjuk-Nya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bila ajal menimpa kita dalam keadaan seperti ini (lalai), tertutuplah pintu-pintu taubat, dan penyesalanpun tidak berguna lagi.

    Kembali ke jalan yang lurus (benar)

    Bencana-bencana yang menimpa bangsa kita adalah cobaan dari Allah agar kita kembali kepada jalan yang benar, sebagaimana Firman Allah di dalam surat Ar Rum ayat 41 :

    “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

    Untuk mengingatkan kembali, di dalam sholat kita bermohon 17 kali sehari agar Allah memberi kita petunjuk kepada jalan yang lurus.

    “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri rahmat dan beri nikmat kepadanya, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
    (Al Fatihah ayat 5-6)

    Ini adalah inti dari doa setiap individu yang beragama Islam. Sebuah harapan yang hanya dapat diraih dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Tidakkah kalian merindukan pertemuan dengan orang-orang yang paling mulia, sejak awal diciptakannya bumi hingga hari akhir nanti?? Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat secara hakiki, dan senantiasa berada dalam perlindungan-Nya.

    “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu, para Nabi-nabi, Siddiqiin (orang yang sikap, ucapan dan tindakan selalu benar), Shuhada (orang yang mati syahid), dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
    (An Nisa ayat 69)

    Kemudian, mereka yakin bahwa kebenaran datang dari Tuhannya ;
    “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, oleh sebab itu, jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS. An Nisa ayat 147)

    Dan mereka yakin bahwa kitab Suci yang dibawakan oleh Rasul-Nya, adalah pedoman hidup yang memberikan petunjuk agar menjalani hidup dengan benar.
    “Kitab (Al Qur’an) tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”
    (QS. Al Baqarah ayat 2)

    Semoga bermanfaat, dan menjadi bahan interospeksi bagi kita semua.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Salahuddin H.

  9. rubencom said,

    Mei 25, 2007 pada 3:08 pm

    salam kenal

  10. tepe69ngalam said,

    Februari 16, 2008 pada 6:24 am

    jalan keluarnya kukira ada dalam novel ayat – ayat cinta, disana dijelaskan secara baik tentang adab-adab bergaul dengan wanita…Insya Alloh

    buahkehidupan.blogspot.com

  11. shalatkhusyu said,

    September 18, 2008 pada 10:29 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
    Berangkat dari keinginan untuk sebanyak mungkin mencegah perbuatan keji dan mungkar, saya pun ikut aktif membantu guru saya, ustadz Abu Sangkan, dalam menyebarkan shalat khusyu’. Lebih lanjut, saya memberanikan diri untuk membuka pintu rumah bagi orang-orang yang datang untuk mempelajari shalat khusyu’. Saya sendiri sebetulnya tidak memiliki ilmu agama yang memadai. Belum pernah mengikuti pesantren, pengetahuan agama saya peroleh dari membaca dan mengikuti beberapa kegiatan pengajian. Saya juga bukan orang yang pandai berbicara. Saya adalah orang yang sering tergagap-gagap dan cepat kehabisan bahan jika harus berbicara sendiri. Untunglah, orang-orang yang datang ke rumah umumnya adalah para “pencari” sehingga berbagi pengalaman spiritual dengan mereka menjadi pembicaraan yang mengasyikan.
    Pelahan tapi pasti, melalui tahap trial and error yang cukup panjang, akhirnya saya mulai menemukan format pelatihan shalat khusyu’ yang ringkas untuk diterapkan di rumah. Kegiatan halaqah akhirnya terselenggara secara rutin setiap Jum’at malam di rumah pun. Pelatihan tersebut merupakan kompilasi atas pemahaman saya dari pelajaran shalat khusyu’, makrifat dan hakekat yang telah saya terima dari ustadz Abu Sangkan. Keterbatasan kemampuan bicara, ilmu agama dan waktu, membuat saya harus memilih dan meracik pelajaran-pelajaran tersebut agar sesuai dengan kemampuan yang saya dalam menyampaikannya ke orang lain.
    Dalam pertemuan pertama, biasanya saya hanya mengajarkan bagaimana kita bersikap ketika datang menghadap Allah. Saya hanya menggunakan dalil yang sudah diketahui bersama, yaitu rukun shalat. Ayat Al-Qur’an, hadits dan ketentuan fikih lainnya yang saya sampaikan, bisa dikatakan hampir semua orang sudah pernah mendengarnya. Saya hanya mengajak orang untuk memahaminya dari sisi yang berbeda lalu mencoba mempraktekkannya bersama dan merasakan perbedaan hasilnya. Karena itu, saya memberikan porsi yang cukup besar kepada latihan-latihan. Agar dengan penjelasan yang sedikit, orang sudah dapat memahami apa yang saya maksudkan tanpa perlu menjelaskannya secara panjang lebar.
    Alhamdulillah dengan cara-cara tersebut, dalam pertemuan pertama yang memakan waktu sekitar 1,5 – 2 jam, umumnya orang telah mulai memahami dasar-dasar shalat khusyu’ dan merasakan nikmatnya shalat berjamaah yang dilakukan setelah latihan. Selanjutnya shalat mereka mulai berubah. Shalat khusyu’ mulai dapat dilakukan sendiri meskipun mungkin belum stabil dan durasinya pendek.

    Dalam kesempatan ini, saya mencoba menuliskan materi pelatihan shalat khusyu’ yang biasanya saya sampaikan tersebut, termasuk latihan-latihan yang perlu dilakukan.
    Membaca tulisan tentu berbeda dengan mengikuti pelatihan secara langsung. Dalam pertemuan langsung, saya bisa melihat langsung respon peserta dan memberikan koreksi apabila ada kesalahan dalam praktek. Dan yang lebih penting, memberikan motivasi untuk mencapai ketundukan hati jiwa yang diperlukan dalam shalat khusyu’. Karena itu, self motivation dalam bentuk keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kesungguhan dalam melakukan latihan-latihan yang ada dalam buku ini sangat penting untuk dapat memahami apa yang saya sampaikan. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan dapat mudah diikuti dan bermanfaat kita semua.
    Jika ada komentar atau kesalahan dalam terhadap tulisan ini, mohon dapat menyampaikannya melalui email : mardibros@gmail.com. Mungkin tidak semua email sempat saya balas, harap maklum. Anda juga dapat mengikuti diskusi shalat khusyu’ di milis Dzikrullah dengan mendaftar di http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah atau melalui http://www.dzikrullah.com. Dapat pula bertanya dan mengikuti tuntunan langsung dengan mendatangi halaqah-halaqah shalat khusyu’ yang sebagian alamatnya ada di bagian belakang buku ini.
    Selamat membaca.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.
    mardibros

    download ebook selengkapnya di shalatkhusyu.wordpress.com

  12. azharblog88 said,

    Januari 5, 2010 pada 4:47 pm

    Islam Memang Paling Keren

    Apalah itu definisi keren? Barangkali setiap orang membuat definisi yang beda. Tetapi biasanya kata keren identik dengan sesuatu yang nyeleneh (nggak wajar). Misalnya ada orang pake rambut yang aneh-aneh, maka dia dibilang keren. Atau pakaiannya norak bin caper, dia pun dibilang keren.
    Lha terus, apakah Islam keren dengan definisi macam itu? Tentu saja tidak. Islam ana bilang keren karena dia punya identitas sendiri. Nggak mau ikut-ikutan ’orang lain’. Coba kalau kita cermati, banyak ritual-ritual ibadah dalam Islam yang menyedot perhatian dan membangkitkan kedongkolan serta rasa dengki umat agama lain untuk kemudian menirunya. Kita bahas yuk….
    1. Puasa Ramadhan
    Ketika matahari bersiap menuju pembaringan. Kegelapan bersedia menyelimuti langit. Sementara putera-puteri bercanda di dalam masjid. Mereka menunggu teriakan muadzin. Jalanan ramai dengan pedagang. Lapak mereka menghiasi trotoar. Wajah mereka gembira bak rembulan.
    Nah itulah bait yang …. menggambarkan bahwa Islam memiliki syiar luar biasa. Siapa yang tak merasakan indahnya gema ramadhan. Seperti yang digambarkan di bait di atas. Ibu-ibu sibuk memikirkan menu sahur dan buka. Anak-anak pun menanti dengan penuh harap saat waktu maghrib tiba. Belum lagi jalanan yang memiliki warna khas, warna Ramadhan. Pagi hari, yang biasanya warung makan buka jam 8-an, jam 2 pun sudah menerima pelanggan. Waktu shubuh jauh lebih ramai dari biasanya. Tak dapat ditolak, puasa Ramadhan telah menjadi syiar yang luar biasa bagi Islam. Dialah salah satu ciri khas Islam. Syiar hebat ini tak pernah didapati di kehidupan umat agama lain.
    Akan tetapi, tampaknya hal ini menimbulkan keirian, bukan ke sumatera. Maksudnya rasa iri. Ada orang-orang di luar Islam yang ingin juga merasakan nikmatnya puasa. Akhirnya mereka ikut-ikutan puasa. Ana pernah dengar, orang nasrani ternyata juga punya musim puasa. Mereka merasakan puasa tahunan. Jadi mereka ikut-ikutan ibadah kita. Bedanya, kalau kita jelas diperintah lewat Al-Qur’an, di antarnya surat Al-Baqarah ayat 183. Kalau mereka, ana nggak tahu pake dalil apa…???

    2. Haji
    Ketika mata-mata menjadi basah menatap baitullah. Ketika jutaan manusia berdesakan mengelilingi kakbah. Wajah mereka diselimuti khusyu’ dan ketundukan.
    Semacam itulah keadaan kota Makkah tiap tahunnya. Subhanallah…
    Kita semua menyadari, ketika musim haji tiba, banyak orang dari berbagai latar belakang mengalami kesibukan. Baik dari pengusaha tekstil, perusahaan penerbangan, pengelola hotel, juru cukur, penjual minyak wangi dan siwak, serta berbagai jenis orang lainnya tersibukkan dengan adanya haji. Perusahaan pers pun menyorot pelaksanaan haji tiada henti. Pelaksanaan haji memang menyedot perhatian umat jutaan manusia. Ternyata, ada juga yang ikut-ikutan…
    Beberapa waktu yang lalu, ana dapat oleh-oleh dari tetangga Nasrani. Ada beberapa barang. Di antaranya minyak wangi. Istimewanya, barang ini dibeli dari Israel. Sempat terpikir juga, bagaimana kalau ternyata ada racunnya….
    Kembali ke topik. Nah, jadi orang nasrani juga pergi ’haji’ lho. Mereka ikut-ikutan kita. Bedanya, kita haji ke baitullah. Sedangkan mereka haji-hajian ke Yerussalem, sebuah kota di Palestina (kita tetap bilang Yerussalem milik Palestina, meski sekarang diduduki Israel). Perbedaan kedua, dalil kita jelas, di antaranya surat Ali-Imran ayat 197. Kalau mereka, entahlah… Dasar Islam memang keren, jadi banyak orang mau ikut-ikutan.

    3. Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    Tiada kata seindah do’a. Tapi ana nggak tahu ini pendapat siapa…. Saudaraku, barangkali inilah ucapan paling romantis ketika berjumpa dengan saudara. Ucapan ini memiliki makna yang begitu dalam. Tentu lebih berharga dari selamat pagi, lebih bermakna dari sampai jumpa. Dengan menyebarkan salam, akan tumbuh benih cinta di hati muslimin. Inilah kalimat yang terucap ketika akan berpisah dan ketika bersua.
    Adakah di agama lain salam seindah ini? Ada sih yang mau ikut-ikutan. Tapi tetap nggak kompak dan tak begitu berkesan.

    Saudaraku, sebenarnya dari tadi ana ’ngomong’ ngalor-ngidul ke sana kemari untuk menyiratkan sebuah pesan yang penting. Jadi langsung saja ke pokok permasalahan. Sebenarnya, masih banyak syiar-syiar agama kita yang hebat. Tidak didapatkan, kecuali di dalam Islam. Tapi kita cukupkan pembahasannya sekian. Sekarang masuk ke inti permasalahan.
    Di antara hal yang harus kita lakukan adalah hidup dengan Islam. Hidup dengan dien al-Islam. Apa itu dien? Dien adalah nidzomul hayaat (pandangan hidup). Artinya, jika seseorang mengaku berdien (beragama) Islam, maka seharusnya ia menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Ia harus menggunakan Islam untuk mengatur segala aktivitasnya. Begitulah kalau dia berdien Islam. Dia makan, dengan cara Islam. Dia tidur, dengan cara Islam. Dia bergaul, berorganisasi, memimpin, mengangkat pemimpin, dengan cara Islam. Hidupnya diatur dengan Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Dialah agama dari Allah Ta’ala. Kita tadi melihat bagaimana orang-orang sibuk mencoba meniru cemerlangnya Islam. Islamlah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan.
    Saudaraku, dengan kita mengetahui banyak orang ingin meniru Islam, mestinya kita semakin PeDe dengan Islam. Kita harus mengikrarkan, cukup aku hidup dengan Islam. Nggak perlu dan males deh pakai aturan yang lain. Islamlah aturan hidup yang paling cemerlang. Kalau kita berada di jalan yang benar, nggak perlu iri melihat orang tersesat. Kita tidak boleh mengikuti cara mereka. Mereka punya Valentine’s Day, natal, juga acara-acara model kafir lainnya. Nah, kita tidak perlu iri. Kita punya banyak ’program umum’ yang lain. Tentunya lebih hebat dan selamat. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
    ”Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia bagian dari mereka”
    Hadits ini mengingatkan kita untuk tidak meniru budaya orang kafir. Barangsiapa yang meniru-niru budayanya, maka dia bagian dari mereka. Setiap muslim hendaknya mencukupkan diri dengan Islam. Islam mengatur kehidupan di semua aspek. Dari yang global hingga yang detil. Jadi kita tidak perlu mengikuti budaya mereka. Tidak usah tertarik dengan hari natal, Valentine’s Day, halloween’s (atau nggak pakai ’s) Day, april mop, tukar cincin pernikahan, memperingati tahun baru, memperingati ulang tahun, dan semacamnya.

    Walhamdulillahirobbil’alamin. 9 Muharram 1431 H.

  13. April 4, 2014 pada 7:29 am

    INFAQ PEMBANGUNAN DAN PEMBEBASAN TANAH WAKAF PONDOK PESANTREN DARUN NAJIHIN
    Infaq Pembangunan dan Tanah Wakaf untuk Pondok Pesantren Darun Najihin
    Alhamdulillah, penggalangan dana tanah wakaf tahap pertama 27Juni 2012 – 15 Juli 2013 berhasil mengumpulkan dana Rp. 50.jt. Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan infak wakafnya pada kami. Kesempatan kembali dibuka untuk pembelian tanah wakaf tahap II yaitu 17 Maret – Desember 2014. Silahkan hubungi contact person kami di bawah untuk info lebih detail.

    Perihal Pembebasan Tanah
    Kami atas nama pengurus Pondok Pesantren Darun Najihin Bagik Nyala bermaksud membebaskan tanah untuk perluasan dan pengembangan pesantren, khususnya pesantren putri yang saat ini sangat membutuhkan lahan baru karena lokasinya sudah tidak mencukupi.
    Tanah yang saat ini akan kami bebaskan berada di sebelah Selatan pesantren putri seluas kurang lebih 1.200
    Harga Tanah Per-Meter
    Harga per-meter: Rp. 150.000 (tiga ratus ribu rupiah).
    Batas akhir infaq wakaf: Desember 2014

    DAFTAR ISI

    1. Perihal Pembebasan Tanah
    2. Harga Tanah Per-Meter
    3. Cara Infaq Tanah Waqaf
    4. Daftar Nama Waqif/Donatur Tanah Waqaf

    Cara Infaq Tanah Waqaf
    Dana untuk pembebasan tanah wakaf tersebut dapat diantar langsung Pondok Pesantren Darun Najihin Bagik Nyala atau melalui salah satu rekening bank berikut:
    1. Rekening Bank BNI. No. Rekening: 0319412958 NAMA; Yayasan Pondok Pesantren Darun Najihin.
    2. Rekening BRI unit Sakra Selong : 4736-01-014455-53-3 Nama; Pondok Pesantren Darun Najihin Bagik Nyala.
    3. Rekening Bank NTB Cabang Selong : 002-22-18230-01-9 Nama; Pondok Pesantren Darun Najihin Bagik Nyala.
    Mohon perhatian: Setelah men-transfer harap konfirmasi via SMS atau telpon ke: 08175708172 UST.H.A.MUKTAMIRIN NUR dengan menyebut nama bank dan jumlah dana yang ditransfer.KARENA setiap akhir bulan kami laporkan lewat net dan Koran Lombok pos

    Kepada Bapak/Ibu para muhsinin yang telah menyalurkan sebagian rezekinya kami mendo’akan “JAZÂKUMULLÂHU KHAIRAN WABAROKALLÂHU FÎKUM WAFÎ AHLIKUM WA MÂLIKUM”. Insya Allâh harta yang bapak/ibu infaq-kan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
    Wassalam,
    Koordinator Pembebasan Tanah Wakaf 2013/2014
    Pondok Pesantren Darun Najihin Bagik Nyala
    Ketua: UST.H.A.MUKTAMIRIN NUR,S.Ag.,M.Pd Hp: 08175708172
    Sekretaris/Bendahara: ZULKIFLI, . HP: 081803743104

    Alamat sekretariat:
    Yayasan Pondok Pesantren Darun Najihin. Jl. Datok Daud Bagik Nyala Desa Montong Beter Kec Sakra Barat Kab. Lombok Timur Propinsi NTB.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: