Hukum Berwudhu’ Dengan Air Panas

MediaMuslim.Info – Apa hukumnya berwudhu’ dengan menggunakan air panas? Apakah sah berwudu dengan menggunakan air panas atau apakah hukumnya? Berwudhu’ dengan air panas tidaklah mengapa, namun jika terlalu panas hukumnya makruh kendati wudhu’nya tetap sah. Karena hal itu dapat merusak dan membakar kulit. Sejak dahulu permasalahan apakah air yang dipanaskan dapat mengangkat hadas memang terus diperselisihkan.

Namun yang benar dapat mengangkat hadas, bahkan menjadi kebutuhan utama di daerah-daerah dingin. Namun makruh hukumnya jika air itu dihangatkan dengan menggunakan bahan bakar yang najis. Wallahu A’lam.

(Sumber Rujukan: Al-Lu’lu’ Al-Makin kumpulan fatwa Syaikh Bin Jibriin hal 78)

About these ads

4 Komentar

  1. Februari 4, 2007 pada 11:22 pm

    menurut saya sih boleh aja, pa lagi kalau dengan memeaki air biasa (dingin) dapat menimbulkan mudarat bagi tubuh kita. mnrut fiqih yang saya pelajari, air yang dapat di pkai adalah air yang suci lagi mensucikan, nggak da tuh harus air dingin atau panas, kecuali air yang kita panaskan itu emang udah kena najis dari awal.

  2. Sirojudin said,

    Februari 6, 2007 pada 8:07 pm

    seingat saya (waktu saya kecil belajar ngaji) yang makruh dipakai wudhu adalah air yang panas/hangat oleh sinar matahari dan tempat air tersebut dapat berkarat (itu kalo saya gak lupa) maklum udah lama saya gak belajar.

  3. samosir said,

    Februari 11, 2007 pada 8:51 am

    Ya, itu memang terdapat perbedaan ijtihad para ulama. Ijtihad artinya pemikiran dan usaha keras dalam meneliti Qur`an dan Hadits.
    Kalo udah masalah kayak gini, ya ikuti aja menurut ilmu dan pemikiranmu dengan mendasarkan kepada pendapat para ulama salaf. Kaji kembali ilmu mereka (ulama-ulama tersebut), dan ikuti kesesuaiannya pada sumber pedoman kita: Al-Qur`an dan Hadits. Ikuti salah satu pendapat yang menurut ilmu lebih tepat. Bukan menuruti nafsu.

    Perbedaan-perbedaan pendapat masalah fiqih pada para ulama salaf tidak menimbulkan kedengkian atau bahkan pertengkaran. Mereka melaksanakan pendapatnya pada dirinya masing-masing. Mereka tetap saling bersilaturrahmi.

    Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah ulama mutaakhir ahli hadits (abad ini). Beliau adalah ulama yang sangat meneladani pemikiran para ulama salaf. Beliau mempunyai argumentasi yang kuat bahwa cadar itu hukumnya sunnah. Sedangkan ada ulama (saya lupa namanya) yang juga bermanhaj salaf. Beliau juga punya argumentasi yang kuat, namun berbeda pendapat bahwa hukum cadar adalah wajib. Walaupun keduanya berbeda pendapat, mereka saat bertemu saling berkasih sayang. Bahkan Syaikh Al-Albani sempat makan bersama di rumah ulama satunya.

  4. ngajisalaf said,

    Februari 11, 2007 pada 5:17 pm

    Kami Berharap semoga Pihak Blogs ini bersabar dengan adanya fitnah dari sebagian saudara kita yang suka mencari Popularitas.

    Semoga Blogs ini bertahan dan terus bertahan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: